Tahun 1962, mom and dad beli rumah di PeeJay yang dulunya adalah sebuah kompleks KODAM. Tentu saja dulu namanya bukan Pondok Jaya. Waktu itu banyak temen dan sodara mom and dad males berkunjung ke PeeJay, karena selain letaknya jauh dari Kebayoran yang waktu itu udah cukup padat dihuni, PeeJay juga terletak di tengah rawa-rawa dan hutan. Makanya dulu PeeJay sempet disebut sebagai 'tempat jin buang anak'. Bayangan PeeJay dulu gak akan pernah hilang dari kepala gue. Sampai umur 7 tahun gue dibesarkan di PeeJay. Gue sempet TK dan sampe kelas 1 SD di PeeJay sebelum dad ditugaskan ke luar. Jalanan di depan rumah kita masih berbatu dan banyak lubang besar, jadi gue gak bisa belajar sepeda. Sebelum ada listrik kita pake diesel yang setiap sebelum magrib dinyalakan. Jadi sambil nonton tivi (yang hanya ada 1 channel aja) kita juga denger suara diesel yang mengraung.
Di akhir tahun 60-an yang tampak hanya beberapa gelintir rumah yang masing-masing masih dibatasi oleh tanah kosong. Kemudian, di tengah-tengah PeeJay ada rawa-rawa dan lapangan. Di situ selalu rame kalo bulan purnama dan juga kalo perayaan 17 agustusan. Tapi selain dari itu sepertinya berlaku jam malam, karena kalo udah matahari terbenam gak bakalan ada orang yang nongkrong atau tukang jualan yang lewat apalagi di masa-masa setelah gue lahir di tahun 1966. Tetapi karena gak begitu banyak orang, hubungan sama tetangga pun jadi akrab. Kita udah seperti keluarga. Kita misalnya bisa minta kecap atau garam ke tetangga sebelah atau bahkan tetangga di ujung jalan kalo persediaan di rumah habis. Gw inget masih inget waktu bokap dimintain tolong sama tetangga yang istrinya mau melahirkan. Bokap gue satu-satunya orang yang pada waktu itu punya mobil. Akhirnya mereka diantarlah ke rumah sakit. Dan sampai sekarang mereka masih saja membicarakan tentang kebaikan bokap gue.
Rumah kita di PeeJay sempat dihuni sama adik2 mom and dad waktu bokap mendapat tugas. Selama kita gak tinggal di situ, PeeJay mengalami banyak perubahan. Di atas rawa-rawa itu tadi dibangun gedung SMP, Puskesmas dan Balai Rakyat, tempat warga PeeJay mengadakan acara puncak tujuhbelasan. Di atas tanah kosong antara satu rumah dan rumah lainnya pun udah dibangun rumah-rumah baru. Awal tahun 90-an kompleks ini berubah menjadi perumahan umum, karena warga lama udah mulai pensiun, meninggal dunia atau pindah rumah dan berdatanganlah warga-warga baru seperti Rhoma Irama, Samuel Rizal, Cornelia Agatha juga pernah tinggal di PeeJay, dan baru-baru ini gue denger bahwa Aa Gym juga menjadi warga PeeJay bersama istri barunya. (Duh maap ya bapak2 dan ibu2 yang namanya disebutkan di sini ... saya gak bermaksud untuk buka rahasia loh).
Nah, justru karena kehadiran banyak orang baru kerukunan PeeJay itu terkadang terusik. Contohnya nih ... gue udah bertahun-tahun tinggal di PeeJay, even after my parents passed away and I got married, tetapi jarang sekali ada orang yang 'belagu' tinggal di PeeJay. Nah, kita dapet tetangga baru yang ngontrak persis di depan rumah kita. Seorang cewek yang belum nikah dan begitu bangganya dengan mobilnya. Pertama kali gue liat ada orang baru, ya gue kasih dong senyuman dan anggukan menandakan: "Hey I'm your neighbor!" Eh .... dia malah buang muka. Busyet deh!!!! Awas lu ya.
Gue berpikir ini: kalo dalam beberapa tahun ini orang-orang seperti cewek itu semakin banyak, maka gue rasa kata 'kerukunan' mungkin akan hilang dari kamus Bahasa Indonesia. Gue gak habis pikir aja kenapa orang-orang harus merasa dirinya lebih dari yang lain jika memang mendapat kesempatan menjadi lebih dari yang lain? Apalagi di lingkungan tempat tinggal, karena setelah mengalami banyak hal, gue sadar bahwa orang pertama yang kita minta bantuan adalah tetangga kita, bukan keluarga kita yang tinggalnya berjauhan dari kita. Tetapi gue yakin dengan hanya segelintir orang-orang seperti tidak akan memudarkan semangat dan kerukunan warga Pondok Jaya yang tetap Jaya!