vrijdag 7 december 2007

1966 ......


A broken hearted woman, Animah, left Indonesia for India in 1957 after her boyfriend left her for another woman. It was her sister, whose husband was posted in New Delhi as Defense Attaché, who asked Animah to go along with her and her family to the country where her ancestors came from.

One day she was introduced to Mr. Slamet, the assistant of the Defense Attaché, a quiet and handsome Javanese guy. Then the two met each other quite a lot and there was something growing between these two people. Yes ... it was love. Animah & Slamet made vows at Taj Mahal, built by a Mongul emperor named Sahah Jahan, for his wife Mumtaz Mahal.
After they returned to Indonesia, they got married in Jakarta in 1962. A lot of people wondered whether these two could get along well. Animah came from a quite wealthy family in Medan and she was a hard, stubborn woman with a beautiful smile. Slamet came from a simple farmer family in Purwokerto and he was a patient, quiet and understanding man with a friendly look. But it was their love that made their relationship stronger. Four year they had to wait before they could call themselves parents. In 1966 Animah brought a baby girl, Rina, to this world. Rina is a mixed product of two beautiful people ..... stubborn, lovely, patient, hard, friendly and course beatiful ;-)
Rina is not the only product, there are also Anto, DIni and Shanti. We are the ones who will keep Animah and Slamet's love going on living so that their grandchildren: Haykel, Nadya, Zalfa, Alia, Aila, Farel and few other come (heheh) still can remember them not of what they were but of who they were.

maandag 7 mei 2007

Konser Daniel Sahuleka

Awal bulan April yang lalu, gue rapat ama bos gue untuk ngomongin beberapa kegiatan yang kita mo diadain di bulan April en Mei. Terus dia bilang kalo Daniel Sahuleka mo manggung di Jakarta. Wow!!! Emang sih Daniel Sahuleka bukan Phil Perry ato Level 42, tapi gw seneng banget ama suaranya yang khas en lagian ada kenangan waktu di SMP (tapi gak usah dibahas itu ... heheheh). Apalagi lagu Don't sleep away-nya en You make my world so colorful. Tapi sih terus terang waktu dia bilang si mas Daniel mo manggung, gw agak ragu: apa iya ada yang mo nonton dia? apa iya dia masih dikenal? Maar .... gak apa-apa yang penting gw mo liat dia manggung di Erasmus lagi setelah sukses manggung tahun 1995. Maka gue sebarlah kabar itu, terutama ke adik-adik gw yang tau gimana sukanya gue ama si mas D ... hehehehe. Sejak SMP gw pengen banget tuh ketemu mas D, malahan gw rela nungguin mas D tampil di TVRI (1988) jam 1 malem.
Menjelang hari H-nya gw deg-degan banget. Pagi di kantor udah gak konsentrasi lagi. mo ketemu mas D gitooeee. Tiba-tiba datenglah bosku yang baik, cakep dan rupawan itu: kamu mau gak ngasih bunga ke Daniel? Langsunglah gue jawab dengan pasti: YEAH!!!!

Dengan ditemani mas D-ku (my hubby) en dengan keringet dingin, gw masuk ke auditorium Erasmus yang penuh dengan pengunjung yang mo nonton mas D. Gak nyangka mas D masih dikenal di Jakarta, apalagi yang dateng kebanyakan yang umurnya jauh di bawah gue. Setelah molor sekitar 45 menit, akhirnya lampu padam juga. Duh gw semakin deg-degan. Pas mas D muncul gw langsung gak inget umur en teriak: DANIEL!!!! Disambut tawa orang-orang yang duduk di sekitar gw. I couldn't control myself when he started to sing. Ada lagu baru seperti If I didn't dan lagu lamanya seperti The Rain. Gw en adik gw gak bisa tahan air mata waktu dinyanyiin lagu Must you go away, soalnya inget ama almarhum nyokap en bokap. And of course di bawain his most popular numbers such as Don't sleep away and You make my world so colorful. Semua pada ikut nyanyi!! Bos gw yang tadinya bilang waktu ada rencana undang mas D: sapa tuh Daniel Sahuleka? Akhirnya kagum juga mas D punya banyak penggemar di sini.

Setelah mas D nyanyi lebih dari satu jam, gw nyiapin bunga yang gue taro di bawah kursi gw. Belum lagi tepuk tangan reda gue udah langsung nyosor dia dengan bunga di tangan. Padahal mas D itu alergi bunga heheheh .... Di atas panggung gw bilang: mas D, ini aku berikan bunga kepadamu, mas! Aku sudah menanti 20 tahun untuk kesempatan ini. Eh ... dia langsung meluk gue! hihihihihihihihhiih Ai lop yu dah mas!

Nou, Daniel, fijn dat je weer teruggekomen bent en fijn dat je de herinnering aan het verleden op een mooie manier hebt teruggebracht. Ik wens je veel succes en misschien zien we elkaar weer.

zaterdag 3 februari 2007

Pondok Jaya yang selalu jaya!

Pondok Jaya. Itu adalah jawaban gue setiap kali ditanya dimana gue tinggal. Jawaban gue biasanya dapet celetukan balik yang kadang-kadang bunyinya 'dimana tuh?' atau 'oh, yang deket pabrik tahu, ya' atau juga 'di daerah Buncit khan?' biasanya dengan bangga gue sahut: 'pokoknya gue tetanggaan ama Rhoma Irama. Tapi jawaban yang paling sering gue denger: 'deket Pondok Karya, ya?' dan itu gak berhenti sampe situ aja ... masih ada terusannya ... 'sering banjir, khan di situ Rin?' .... 'itu khan daerah banjir?' .... tapi celetukan yang paling 'ekstrem' terdengar datengnya dari bekas dosen gue: 'di Pondok Jaya teh tumpah aja khan banjir' ... mendengar itu gue geli tapi juga kecut karena emang kenyataannya beberapa tahun yang lalu ibaratnya kalo kita tumpahin teh maka banjirlah tuh Pondok Jaya.

Tahun 1962, mom and dad beli rumah di PeeJay yang dulunya adalah sebuah kompleks KODAM. Tentu saja dulu namanya bukan Pondok Jaya. Waktu itu banyak temen dan sodara mom and dad males berkunjung ke PeeJay, karena selain letaknya jauh dari Kebayoran yang waktu itu udah cukup padat dihuni, PeeJay juga terletak di tengah rawa-rawa dan hutan. Makanya dulu PeeJay sempet disebut sebagai 'tempat jin buang anak'. Bayangan PeeJay dulu gak akan pernah hilang dari kepala gue. Sampai umur 7 tahun gue dibesarkan di PeeJay. Gue sempet TK dan sampe kelas 1 SD di PeeJay sebelum dad ditugaskan ke luar. Jalanan di depan rumah kita masih berbatu dan banyak lubang besar, jadi gue gak bisa belajar sepeda. Sebelum ada listrik kita pake diesel yang setiap sebelum magrib dinyalakan. Jadi sambil nonton tivi (yang hanya ada 1 channel aja) kita juga denger suara diesel yang mengraung.

Di akhir tahun 60-an yang tampak hanya beberapa gelintir rumah yang masing-masing masih dibatasi oleh tanah kosong. Kemudian, di tengah-tengah PeeJay ada rawa-rawa dan lapangan. Di situ selalu rame kalo bulan purnama dan juga kalo perayaan 17 agustusan. Tapi selain dari itu sepertinya berlaku jam malam, karena kalo udah matahari terbenam gak bakalan ada orang yang nongkrong atau tukang jualan yang lewat apalagi di masa-masa setelah gue lahir di tahun 1966. Tetapi karena gak begitu banyak orang, hubungan sama tetangga pun jadi akrab. Kita udah seperti keluarga. Kita misalnya bisa minta kecap atau garam ke tetangga sebelah atau bahkan tetangga di ujung jalan kalo persediaan di rumah habis. Gw inget masih inget waktu bokap dimintain tolong sama tetangga yang istrinya mau melahirkan. Bokap gue satu-satunya orang yang pada waktu itu punya mobil. Akhirnya mereka diantarlah ke rumah sakit. Dan sampai sekarang mereka masih saja membicarakan tentang kebaikan bokap gue.

Rumah kita di PeeJay sempat dihuni sama adik2 mom and dad waktu bokap mendapat tugas. Selama kita gak tinggal di situ, PeeJay mengalami banyak perubahan. Di atas rawa-rawa itu tadi dibangun gedung SMP, Puskesmas dan Balai Rakyat, tempat warga PeeJay mengadakan acara puncak tujuhbelasan. Di atas tanah kosong antara satu rumah dan rumah lainnya pun udah dibangun rumah-rumah baru. Awal tahun 90-an kompleks ini berubah menjadi perumahan umum, karena warga lama udah mulai pensiun, meninggal dunia atau pindah rumah dan berdatanganlah warga-warga baru seperti Rhoma Irama, Samuel Rizal, Cornelia Agatha juga pernah tinggal di PeeJay, dan baru-baru ini gue denger bahwa Aa Gym juga menjadi warga PeeJay bersama istri barunya. (Duh maap ya bapak2 dan ibu2 yang namanya disebutkan di sini ... saya gak bermaksud untuk buka rahasia loh).

Nah, justru karena kehadiran banyak orang baru kerukunan PeeJay itu terkadang terusik. Contohnya nih ... gue udah bertahun-tahun tinggal di PeeJay, even after my parents passed away and I got married, tetapi jarang sekali ada orang yang 'belagu' tinggal di PeeJay. Nah, kita dapet tetangga baru yang ngontrak persis di depan rumah kita. Seorang cewek yang belum nikah dan begitu bangganya dengan mobilnya. Pertama kali gue liat ada orang baru, ya gue kasih dong senyuman dan anggukan menandakan: "Hey I'm your neighbor!" Eh .... dia malah buang muka. Busyet deh!!!! Awas lu ya.



Untung saja kerukunan warga lama PeeJay masih bisa tetap dipertahankan walaupun masing-masing sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Hal itu sangat terasa kalo lagi ada perayaan 17-an, halal bi halal, tahun baru ..... daaaan ..... pada saat banjir. Banjir tahun 2007 itu betul-betul luar biasa karena air sungai meluap sampe car port kita. Itu berarti bahwa rumah-rumah dekat dengan sungai udah tenggelem. Nah, tetangga RT gue juga kebanjiran dan seperti beberapa tahun sebelumnya, rumah kita jadi semacam penampungan. JUGA BUAT CEWEK YANG TINGGAL DI DEPAN RUMAH GUE ITU!!!! Semua orang kita terima dengan baik, termasuk cewek itu. Lewat kakaknya (gue heran kenapa dia gak bisa minta sendiri) dia nitipin barang-barangnya (yang harus gue cemplungin ke air semua hehehehe). Gue pikir dia malu, jadi waktu malem hari warga PeeJay RT 007 berkumpul di tempat gue, gue ajaklah dia ngobrol yang hanya dibales dengan 'ya' en 'tidak' en dia ngelendooootttt terus ama pacarnya. Setelah banjir kita masih sering berpapasan tapi no way dia kagak mau negur zeg.


Gue berpikir ini: kalo dalam beberapa tahun ini orang-orang seperti cewek itu semakin banyak, maka gue rasa kata 'kerukunan' mungkin akan hilang dari kamus Bahasa Indonesia. Gue gak habis pikir aja kenapa orang-orang harus merasa dirinya lebih dari yang lain jika memang mendapat kesempatan menjadi lebih dari yang lain? Apalagi di lingkungan tempat tinggal, karena setelah mengalami banyak hal, gue sadar bahwa orang pertama yang kita minta bantuan adalah tetangga kita, bukan keluarga kita yang tinggalnya berjauhan dari kita. Tetapi gue yakin dengan hanya segelintir orang-orang seperti tidak akan memudarkan semangat dan kerukunan warga Pondok Jaya yang tetap Jaya!

zaterdag 20 januari 2007

Ulang Tahun ke-7

Setiap kali anak-anak ulang tahun, aku and my hubby selalu nyisihin uang sedikit untuk ulang tahun mereka, entah itu untuk hadiah ulang tahun, entah itu untuk pesta ulang tahun. Dan biasanya kita selalu nanya jauh-jauh hari ke mereka apa yang mereka mau. Karena kita gak mau buang-buang uang hanya untuk kesenangan kita berdua sebagai orang tua. Khan bangga tuh bisa ngadain pesta ultah anak di restoran mahal atau bahkan di hotel, sementara si anak sendiri belum tentu senang. Untung banget, anak-anak kita gak suka terlalu meriah-meriah begitu. Tahun ini kita nanya ke Nadya dia mau hadiah apa untuk ultahnya. Tahun ini khan Nadya udah berumur 7 tahun, udah lewat masa balitanya dan dia udah menjadi our little princess jadi bolehlah kalo dapet perlakuan yang istimewa dengan pesta meriah dan kado yang istimewa.

Tapi itu khan ternyata pikiran kita berdua sebagai orang tua. Waktu ditanya, Nadya hanya menjawab: 'aku mau ulang tahunku mama di rumah dan masak yang enak.' Gue nanya: 'Nadya gak mau hadiah? Gak mau dirayain di sekolah atau di mana?' She only answered: 'Gak ma, aku kangen masakan mama. Aku mau mama buatin chicken cream soup, hamburger dan kue ultah.' Jedeer ... rasanya seperti disamber petir yang buat gue sadar: my God, where have I been all these times. Memang karena kesibukan ini dan itu, kebiasaan menyediakan makanan untuk keluarga juga gak pernah lagi dikerjain dan ternyata my daughter misses my cooking.





Pada hari ulang tahun Nadya, 17 Januari 2007, aku ambil cuti dan pagi-pagi gue mulai nyiapin masakan, karena baru malemnya kita kumpul. Pertama-tama gue nyiapin daging cincang untuk hamburger, yang diolah sendiri. Daging cincang campur lada, garam, telor, tepung roti. Dibentuk bulat dan dipipihkan. Karena untuk disantap sendiri, maka daging burgernya agak ditebelin. Setelah itu masukin deh dikulkas untuk didinginkan. Habis itu gue nyiapin buat cream soup: ayam dipotong-potong, kaldu, kacang polong, susu, garam, merica, pala en keju parut. Semua dicampur aja!!



Nah, yang terakhir kue ... duh mana udah cape. Soalnya takutnya mood masak hilang jadi kuenya gagal. Karena Nadya suka coklat, maka gue buat Chocolate Cake dengan segala bahan yang ada di rumah: tepung, gula pasir, mentega, dark cooking chocolate, coklat bubuk, telor, kenari dan cherry merah untuk hiasan.
Jam enaman, Nadya udah gak sabar lagi. Dia udah pingin dinyanyi en potong kue en tentu aja .... makan!!!! Jam tujuh kita kumpul di ruang makan dan nyanyi buat Nadya. Dan yang membuat gue terharu adalah how she looks with proud to her birthday cake. Sengaja kita dudukin Nadya di ujung meja makan seperti seorang ratu yang mendapat banyak perhatian. Semua makanan pastinya ludes, you don't know my kids ;-)
Malem sebelum tidur Nadya bilang dengan mata berbinar: 'Ma, makasih ya pesta ulang tahunnya!' Sikap Nadya ini membuat aku and my hubby tersadar bahwa showing your love to your kids does not really have to mean giving the most expensive presents ever or throwing a huge party which will cost you millions of rupiah. It's just only giving them a chance to ask what they really really want and not what we as parents really really want only for the sake of prestige. Thank you, Nadya!

donderdag 22 december 2005

Dear Remco ....


Dear R,

Je bent maar een paar uurtjes weg uit Indonesië en waarschijnlijk ben je nog niet helemaal bijgekomen van je reis en hier is m’n mailtje al.
R, 't spijt me dat ik me zo ‘vreemd’ heb gedragen toen je afscheid nam, waardoor ik dan ook geen één woord tegen jou kon zeggen. Je vroeg je natuurlijk wel af waarom die tranen? In 15 jaar op kantoor heb ik veel mensen leren kennen, Nederlandse en Indonesische medewerkers. Ik zie dan ook heel vaak verschillende mensen komen en gaan: een echte kaaskop, een slome javaan, een lieve Hollander, en een lawaaierige ambonees and so on and so on, maar het is zeer zelden dat ik een orang Belanda heb leren kennen - die volgens de geroddel niet naar z’n zin had in Indonesië :-) - maar toch respect heeft voor z’n Indonesische collega’s. En niet alleen voor mensen met wie je veel heb samengewerkt maar andere mensen die in en om de ambassade rondslingeren met wie je eigenlijk weinig te maken had: satpams, chauffeurs, Suti, Maria en zelfs de schoonmaaksters, waaronder één die zo onder de indruk van je was toen je haar dikke buik streelde toen ze zwanger was.


Anyway .... ik zal je handkusjes en je 'schoonheid-groet' missen. Ook zal er waarschijnlijk niemand meer zijn die tegen mij zegt over de parfumvlekjes op m'n blous en de ketting die scheef staat .. :-). I am very glad to know a person like you who touch people's life in a simple but special way, but life goes on ... I move on ... you move on, especially you with your excellent career. So, be a good and wise 'senior advisor' in Geneva en het ga je heel, heel, heel goed, R! And although you may not believe in God (you said that the other day, right?) .... God bless you always!

Have a wonderful Christmas and a happy New Year 2006.

Groetjes,

R

dinsdag 1 november 2005

Memori dua kuntum Lili

Aku tidak tahu mengapa
begitu cepat bunga lili itu mekar
di bawah sentuhan sinar matahari
Sebelum kehangatannya sirna,
Ia mengucapkan selamat malam
Untuk terbaring di atas peraduan abadi

Namun aku tahu walau guguran kelopaknya
telah menyatu dengan bumi,
kenangan akan dua kuntum lili itu
tak akan pernah sirna
Namanya selalu terngiang
Keharumannya selalu semerbak
Keindahannya selalu terkenang
Terpatri dalam memori …..

In loving memory of our beloved parents
Slamet Tamihardjo (26 Januari 1930 - 1 November 1995)

Animah Radjab (1 Agustus 1933 - 29 September 1996)

maandag 5 september 2005

Kuis 'Siapa Berani'


Tanggal 9 Mei itu diperingati sebagai Hari Uni Eropa. Seminggu sebelum tanggal 9 Mei, kantor kita ditawarin sama Indosiar untuk ikut Kuis 'Siapa Berani. Setelah diskusi sama bos-bos di atas, akhirnya disetujui kantor kita mewakili Belanda untuk tampil di kuis itu.

Kita hanya punya waktu sedikit untuk pesen t-shirt warna oranye, pesen bis dan ngarang yel-yel. Kita suruh kumpul di studio jam 9 pagi, berarti jam 7 pagi kita udah harus berangkat dari Kuningan. Waktu sampai di studio Belanda seolah-olah dateng nyerbu ditambah lagi si Jan Warmoeskerken (asisten atase pertahanan) niruin bunyi trompet perang.
Tadinya gue gak berharap akan menang karena terus terang kacau banget deh penampilan kita. Tapi yang penting khan koempoel-koempoel. Waktu pembacaan soal gue baru mulai ngerasa kalo gue gak menang malu juga. Gile ... udah woro-woro sodara2, temen2 dan kenalan untuk ngeliat kita tampil di tipi, masa gak menang, sih! Giliran kelompok kita dikasih pertanyaan, gue konsentrasinya buyar, karena Maarten Mulder, bos gue, minta diterjemahin pertanyaan yang diajuin Izur dan Alya Rohali. Pertanyaannya ya sekitar Eropa lah. Terus pemenang diumumin mulai dari pemenang nomer 5. Carla, Jan, Yulia. Pemenang ke-2 jatuh pada no. 1 … yang nota bene adalah gue sendiri. Gue menang kompor gas … hehehhehe. Eh ... si Maarten muncul sebagai juara dan dapet tv 14 inci. Kita gak berhasil jadi pemenang karena yang maju khan Maarten, yang hanya bisa jawab pertanyaan: "Hugh Hefner mengasuh majalah apa?" Dengan lantang dan aksen Belandanya, Maarten menjawab: "Pleiboi"

Karena kita khan gak boleh terima hadiah maka kita tanya dulu ama bos-bos bagaimana dengan hadiah yang kita terima. Alhamdulillah aja kita boleh bawa pulang, karena hadiah itu kita dapetin bukan karena sogokan tapi memenangan kuis. Sampai sekarang kompor gas itu masih belum gue pake sebagai kenangan masuk tipi.